Tampilkan postingan dengan label mata aksara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mata aksara. Tampilkan semua postingan

12 Juni 2017

Jalan Kepiting


Bibliografi antologi puisi:
Umar Fauzi Ballah. 2012. Jalan Kepiting (himpunan puisi). Surabaya: Amper Media.



himpunan puisi ini adalah buku perdana dari proses panjang kepenyairan. setelah melalui pasang surut kreativitas, dibukukanlah puisi-puisi ini dalam rentang 2007-2011. membuat buku bukan soal gagah-gagahan sehingga merasa perlu mempertimbangkan segala sesuatunya, terutama gagasan kreativitas. membukukan puisi ini penting dalam rangka melihat tolok ukur kreativitas selanjutnya.



Daftar puisi:

Talak dengan Hujan; Mati Suri; Mata; Pasar; Jalan Kepiting; Kemuning; Rasi; Biji Mimpi; Dermaga: Frame; Penjaga Malam; Hasrat Hujan; Cacing Tanah; Menjelang; Keroncong; Rabiah; Tanah; Hutan; Echo; Petak; dan Setelah Hujan.

*

Sepasang Bibirmu Api


Bibliografi antologi puisi:
Ferdi Afrar. 2012. Sepasang Bibirmu Api (kumpulan puisi). Sidoarjo: Sarbikita Publishing.



antologi puisi Sepasang Bibirmu Api karya Ferdi Afrar perlu mendapat atensi dan apresiasi di dalam dunia kesusastraan Indonesia. banyak penyair muda sebagai rookie yang bertebaran di daun-daun kota dan di akar-akar desa. mereka adalah generasi muda yang patut dicermati. mereka membawa belati yang sanggup merobek tabir kepengapan sajak-sajak jemu dan basi. Ferdi mulai merajut namanya pada sebuah prasasti kesusastraan Indonesia. ia membuktikan bahwa dia sedang bergerak di atas biduk dengan mengikuti arus. namun, ia memunyai arus sendiri yang bergerak perlahan menuju muara yang masih berwujud sebongkah misteri yang ingin ia dedahkan. Sepasang Bibirmu Api mengangkat arus cinta yang tenang dari dalam hati sang penyair. memang ada beberapa kilatan riak yang menggelora, namun selebihnya adalah derap hanyut yang perkasa. Ferdi menunjukkan bahwa 20 puisi di antara 36 puisinya adalah puisi-puisi yang diawali dengan kata “kekasihku…” dan seluruh puisi-puisi tersebut bertema cinta terhadap seorang perempuan yang dicintainya. semangat untuk menuangkan kata-kata di dalam antologi ini adalah sebuah persembahan untuk seseorang. hasrat, pilu, kecewa, dan ragu adalah api yang menyala di sebagian besar kisah-kisahnya. ia menuangkan tema-tema tersebut menjadi puisi-puisi sebagai proses pelepasan resah yang mesti dilakukan. di satu sisi, pelepasan tersebut menjadi sebuah monumen cinta sebagai bentuk nyata yang bisa ia persembahkan untuk kekasih.



Daftar puisi:

Pertemuan
Taman Rahasia; Pertemuan; Momok; Pantai; Kabut; Coban; Luas; Pintu; dan Sejenak.

Mencatat Rindu
Tebak-tebakkan; Halma; Biji; Khotbah; Ular Tangga; Layang-layang; Berjoget Dangdut; Mencatat Rindu; dan Cerita dari Blaser Hitam.

Kau Selalu Menyebut
Kekasihku; Sajak-sajak Kita; Sepasang Bibirmu; Kisah Om No, Aku, dan Keraguanmu; Kekasihku yang Lain; Kau Selalu Menyebut di Meja Rias Itu Ada Aku; Memotretmu; Memotretmu II; dan 14 Februari.

Catatan Kemelut
Api; Menangislah Batu; Diam; Sepasang Kekasih, Saling Mencuri; Ucapan Selamat Tidur Buatmu; Selamat Datang Sepi; Setelah Hujan; Yang Pernah Singgah di Kepala Kita; dan Catatan Kemelut.


*

Jantung Lebah Ratu


Bibliografi antologi puisi:
Nirwan Dewanto. 2008. Jantung Lebah Ratu (himpunan puisi). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



setiap kali melihat “puisi bebas”, susut nyali kita membacanya. kita khawatir akan berhadapan dengan kalibut kata dan kalimat yang tak bisa kita cerna untuk sekadar beroleh kenikmatan kata dan bahasa, apalagi makna, jika ada. menghadapi Jantung Lebah Ratu Nirwan Dewanto, kekhawatiran kita sirna: puisi Indonesia masih kuasa menyajikan kenikmatan bahasa dan membuka cakrawala makna. di dalamnya kita temukan lagi kekayaan bentuk puisi – pantun, gurindam, haiku – dengan kecermatan rima dan birama, dan kelincahan berututur. pada sebagian yang lain, si penyair mengulur alur panjang, sambil tetap awas memilih kata dan memilin kalimat. ia suntuk menggali kekayaan kosakata, menghidupkan berbagai jenis flora-fauna, meluputkan diri dari jebakan permainan bunyi atau metafor yang kedaluwarsa. si penyair tak sekadar memperlakukan kebebasan sebagai preskripsi bagi penciptaan puisi, tapi justru menerimanya sebagai konsekuensi yang menuntut nyali untuk menentukan batas gelanggang kebebasannya sendiri.

sajak-sajak Nirwan bukan teka-teki, melainkan sehamparan momen estetika. jadi, sebelum hilang pertanyaan kita, tiba-tiba kita menjelma simbol, melebur dalam imaji-imaji yang dibangunnya, merasakan gejolak hasrat yang memicunya, meledak dalam warna-warni, kemudian susut kembali menjadi ubur-ubur, gerabah, gong, atau seonggok kata, dan pertanyaan-pertanyaan baru. intertekstualitas puisi Nirwan merambah dunia, dari Ratna Manggali ke Brancusi, dari Isfahan ke taman pasir Ryoanji, dan mengaduk berbagai acuan budaya menjadi semesta baru – Siwa dan salib, merah Mao dan Marilyn Monroe. tapi sejauh manapun makna berkelana, setiap sajak ini tak urung menariknya kembali pada dirinya sendiri. Jantung Lebah Ratu merengkuh berbagai tradisi perpuisian – sinestesia, permainan tipologi, pantu, dan prosa liris, misalnya – untuk memperluas potensi kata, sensai imajinasi, dan nuansa makna.

dalam himpunan puisi ini, kita bersentuhan bukan saja dengan seorang penyajak biasa, tapi juga pelukis, mungkin malah pematung, yang bekerja dengan kata dan tubuh sekaligus. ia bukan sekadar mengatakan, tetapi juga melukis atau menatah benda-benda biasa, juga peristiwa, yang berserakan di sekitaran. kerapkali malah ia tak melukis benda-benda dan peristiwa itu; mereka justru melukis dirinya sendiri via si penyajak. ia berikhtiar tak menjadi semacam pusat bagi benda-benda dan peristiwa yang ia lukis. sebaliknya, ia membiarkan mereka mengalir lewat tubuhnya, menjadi sebentang sajak yang ia sebut sendiri mirip sebuah cangkang telur yang putih dan kabur. setiap sajak menantang kita terus membacanya lagi dan lagi; setiap kali senantiasa mengejutkan kita dengan penglihatan baru.



Daftar puisi:

Kantung Kesatu: Biru Kidal
Perenang Buta; Kunang-kunang; Cumi-cumi; Gerabah; Daun Bianglala; Gong; Apel; Torso Pualam; Harimau; Semu; Ular; Akuarium; Kucing Persia; Ubur-ubur; dan Anjing Kidal.

Kantung Kedua: Kuning Silam
Lonceng Gereja; Semangka; Nanas dari Roraima; Gandrung Campuhan; Sarapan di Undak Sayan; Madah Merah; Putri Malu; Kancing Gaya Lama; Kain Sigli; Mantra Bungsu; Kroncong Tenggara; Dua Belas Kilas Musim Gugur; Tukang Kebun; Di Restoran Turki; dan Mawar Terjauh.

Kantung Ketiga: Merah Suam
Burung Merak; Pengantin Remaja; Blues; Boogie Woogie; Kopi; Garam; Fajar di Galena; Bubu; Lebah Ratu; Tiga Biola Juan Gris; Bayonet; Selendang Sutra; Lembu Jantan; Peniti Tali; Burung Hantu; dan Keledai.

*

6 Mei 2017

Petarung Kidal




Bibliografi antologi puisi:
Dody Kristianto. 2013. Petarung Kidal. Surabaya: Festival Seni Surabaya (FSS) bekerja sama dengan Satukata dan Amper Media.



Tjahjono Widarmanto memberi ulasan bahwa Dody Kristianto tampaknya memiliki ingatan – bawah sadar atau sadar – tentang dunia persilatan. tampaknya ia memiliki kegemaran membaca cerita-cerita silat atau komik-komik silat, baik yang ditulis berlatar Cina maupun yang berlatar dalam negeri. sangat mungkin pula Dody juga praktisi silat yang bertahun-tahun menekuni dunia pencak sehingga tradisi pencak silat itu berurat akar di dunia bawah sadarnya dan diam-diam suatu saat tiba-tiba nylonong dalam proses berpuisinya.

adalah sebuah ketidaksengajaan jika saya seperti juga Dody gandrung pada cerita silat. semua cerita silat – juga silat itu sendiri – selalu mengambil setting masa lampau; bagian yang tak terpisahkan dari masa lalu! selalu tak terduga, tak bernalar, dan selalu memberi tempat pada sesuatu yang irasional seperti wangsit, laku, kekuatan yang tak kasat mata. sesuatu yang tak terduga dan tak bernalar, yang selalu menjadi ciri masa lalu itulah yang “mengikat” cerita silat (juga silatnya) dengan para pembacanya (pun praktisinya!).

penulis dan pembaca cerita silat selalu terpesona masa lalu. demikian juga ketakjuban mereka akan jurus-jurus silat yang dimainkan para tokoh yang juga sangat imajinatif seimajinatif para tokohnya. imajinasi yang muncul itu begitu menghibur, tak soal masuk di akal atau muskil. justru ketidakmasukakalan inilah semakin menanamkan imajinasi di benak pembacanya. dan, Dody Kristianto, dengan sangat kreatif memunculkan ingatan kita pada imajinasi atas ketertakjuban pada keperkasaan jurus-jurus itu. sesungguhnya, Dody Kristianto sedang meneruskan tradisi para sastrawan silat, meneruskan tradisi para empu, mengembangkan tradisi para suhu yang menuliskan kembali ingatan-ingatan tentang sebuah tradisi yang dibesarkan dan diberi tempat rakyat kecil.

dalam ilmu bersilat dan berpencak, tak hanya dikenal jurus belaka, namun di balik itu ada filosofi, ajaran, pedoman hidup, bahkan ritual yang dianggap sakral. sajak-sajak Dody cukup berhasil menampakkan filosofi itu. silat dengan jurus dan tentu saja dengan muatan falsafahnya (ajaran, petuah) merupakan salah satu dari memori masa lampau dalam Dody. dan, bukan sesuatu yang mustahil bila tiba-tiba bangkit (atau sengaja dibangkitkan) dengan pengungkapan yang berbeda. sajak-sajak Dody menampakkan hal yang serupa. memori masa lampau tentang persilatan yang pernah direkamnya bangkit kembali dan menjadi bentuk ekspresi estetika sajak-sajaknya, memunculkan puitika baru yang belum pernah digarap penyair lain.

situasi yang jungkir balik, yang tak menentu dalam kehidupan sosial politik kita saat ini, membutuhkan kehadiran seorang jago silat. jago silat adalah pendekar yang mumpuni dalam olah kanuragan dan olah kajiwan, yang tak pernah gentar menghadapi apa atau siapa pun. yang tak pernah silau mengarungi situasi apa pun karena yakin berada di pihak yang benar. dalam urusan resmi yang terkait politik dan birokrasi, atau tiran penindasan, jago silat tampil sebagai hero yang bertindak cepat tanpa pamrih. prestasinya sebagai juru atawa pendekar silat dicapainya dengan taruhan apa saja; mengorbankan diri, mengorbankan pacar, istri atau bahkan saudara-saudara seperguruannya. juga segala risiko apa pun akan ditempuhnya, seperti bertapa, menyiksa diri, berlatih keras dan sakit, semua akan ditempuhnya demi tujuan mulia: jadi pendekar kebenaran. seorang pendekar tak pernah berpihak pada apa pun dan siapa pun, tak pernah mengikatkan diri pada darah, keturunan, korps, apalagi duit. dia hanya akan berpihak pada golongan yang benar dan memproklamirkan diri untuk melawan segala golongan hitam yang sesat.

dunia bawah sadar Dody Kristianto tampaknya merindukan hero; sang pendekar itu. di tengah zaman yang penuh gebalau kemerosotan sosial, ekonomi, ketidakadilan, dan politik yang tak kunjung padam dan yang belum jelas benar siapa yang sanggup menemukan solusinya (mungkin juga segala persoalan personalnya, konflik batinnya), ia merindukan seorang pendekar yang bisa menuntaskan segala soal itu. karena Dody seorang penyair, ia tak memunculkan kehadiran pendekar itu sebagai sebuah kisah, namun memunculkannya dalam sajak-sajaknya berbagai jurus yang dahsyat. bahkan, ia mengimajinasikan dirinya sendiri sebagai sang pendekar itu, sang jawara yang “memungkasi” segala persoalan sosial dan personalnya. jadilah ia pendekar tak terkalahkan melawan “entahlah” dalam sajak-sajaknya.



Daftar puisi:

Sebelum Bertentang
Sebelum Bertentang dan Melatih Pukulan Kidal.

Mengamati Beberapa Jurus
Jurus Semburan Ular; Gerak Elang Mengelak; Jurus Penangkis Macan; Pencak Walang; Mengamati Tiga Jurus; Kunyuk Melempar Buah; dan Meyakini Bangau Ngantuk.

Memasuki Gelanggang
Tendangan Tanpa Bayangan; Langkah Penjinak Pedang; Menjajal Pohon; Di Depan Petarung Tanggung; Perihal Pencak Mabok; Langgam Tangan Hampa; dan Membalik Cakaran.

Tarung Tak Teraran
Membalik Arah Angin; Tapak Pemecah Angin; Jurus Terjauh; Memasuki Alam Tubuh; Mengumpulkan Tenaga Dalam; Kelihaian Tubuh Api; dan Tarung Tenung.

Sekian Hikayat Tarung
Memendam Jawara; Membangkitkan Pesilat Kadal; Menantang Sang Badra; dan Tentang Tarung Terakhir.

*

26 April 2017

Munajat Buaya Darat


Bibliografi antologi puisi:
Mashuri. 2013. Munajat Buaya Darat (Kitab Puisi). Yogyakarta: Gress Publishing.



menulis adalah sebuah kebutuhan. tak peduli jargon sebagian orang yang menganggap akhir romantik peran penyair, juga ihwal zaman yang cenderung anti-puisi, bahkan pada dogma mereka yang masih bersikukuh dengan tugas kepenyairan dengan terus mengibarkan tanggung jawab penyair pada dunia dan nasib kemanusiaan. tanpa menulis puisi, rasanya ada yang hilang dan butuh itu untuk menambal yang tanggal tersebut. tentu tak bisa abai pada kewajiban – semacam tanggung jawab profesi –, tetapi kewajiban itu berjalan bersama puisi-puisi.

tak setiap saat puisi hadir sehingga tak setiap saat menjadi “penyair”. puisi kerap kali mengembara karena ia kadang serupa udara yang bergerak bebas meski di dalam diri sudah menyiapkan ruang bermain, pikatan, tempat nan indah agar ia mau diam di sana, bahkan berdiwana di jiwa. ia hanya mau datang ketika diundang dengan ikhtiar tertentu atau tergetar atau tergoda ketika berhadapan dengan hal-ihwal atau peristiwa yang mengusik rasa kemanusiaan meski sepele dan remeh-temeh. karena itu, ada pengakuan diri sebagai penyair jadi-jadian sebagaimana harimau jadi-jadian yang tidak setiap saat menjadi harimau kecuali jika ruh harimau merasukinya. pada saat puisi hadir, jadilah “penyair”. selebihnya bukan siapa-siapa.

kerap juga kita menjadi pembaca puisi sendiri, belajar darinya dan pada saat tertentu juga bertukar-tengkar dengannya. puisi seringkali lebih cerdas dan lebih menggemaskan. dalam posisi tersebut ada kewajiban berendah hati untuk memasu sekian pengalaman darinya. kita merasa telah demikian dihargai dengan kehadiran puisi-puisi itu meski tidak setiap saat, meski harus sabar menunggu dan bersiap dengan menggali kenaifan diri, beredar dalam sekian pengalaman, dan tak lelah membaca berbagai gelaran baik yang tersurat maupun tersirat.

dari kerja itu, tak semua puisi lahir menjadi tulisan yang matang, bahkan kadang setengah matang, seringkali malah mentah. beberapa yang matang atau setengah matang terkumpul dalam buku-buku puisi ini, buku-buku kumpulan karya bersama, tersiar di media massa, ngendon di surat undangan pernikahan sahabat, sementara itu terdapat ratusan bakal puisi yang tertinggal di kertas-kertas yang telah lenyap karena dilalap banjir dan disantap rayap, SMS pada kekasih yang sudah terhapus, status di jejaring sosial yang tertimbun status baru, dan tilas lainnya.

sebagaimana nukilan di awal, menulis puisi adalah kebutuhan, tetapi puisi tetaplah puisi. ia tidak hadir dari langit kekosongan belaka. ia pun tak mudah dikotak dalam sebuah tempat yang rapat dan kedap suara. jika di antara pembaca, ada yang bersua, bahkan mungkin akrab, dengan puisi-puisi ini, tentu itu karena kemurahan pembaca yang telah meluangkan waktu untuk menyapanya. adapun jika ada yang memeroleh sekeping kemanfaatan, bahkan mungkin sejumput berkah, tentu itu bukan wilayah penyair dan puisi-puisinya.



Daftar puisi:

Patigeni
Tukang Potong; Perempuan Bertubuh Ombak; Luka Adammakna; Percakapan Taman; Khidr; Siwalan Perawan; Obat Hati; Munajat Buaya Darat; Leaki yang Menggali Kuburnya Sendiri; Aku Bangun Kubah di Lembahmu; Patigeni; Malaikat Rangkap; Jejaring; Suara Mendaki; Kemarin; Ladang Pengantin; Hari; Lorong Tak Berujung; Puisi yang Sama; Tanjung Cintaku; dan Gaung Kedung.

Penjantan Matahari
Meja Perjamuan; Sihir Pesisir; Ke Dinding; Kesabaran Abad; Laut yang Cidera; Kupu; Amsal Gulma; Perempuan Laut; Rindu Bidadari; Yang Terkubur Laut; Jelaga; Cucu Tarub; Bintang Jatuh di Hatiku; Sepanjang Tubuh; Hujan; Pejantan Matahari; Peta Hati; Rol; Imaji Bebuahan; Hati Gunung; dan Kitab Perempuan.

Asmarasupi
Darah Hitam; Buku Masa Lalu; Kerudung Bergambar Ular; Bulu Burung; Nujum Maut; Surat Malaikat; Tebing Kuda Lumping; Dadar Rembulan; Kahyangan Api; Ziarah Matahari; Sesat Sesaat; Hantu Lempung; Luka Laut; Belukar Langit; Asmarasupi; Ziarah ke Sintal Pinggulmu; Ciuman Gula Merah; Mantram Kolam; Ilusi Musim; Cenayang Dermaga; dan Berkah Gravitasi.

*

22 April 2017

Aku Ini Binatang Jalang


Bibliografi antologi puisi:
Chairil Anwar. 2009. Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949). Cetakan keduapuluh satu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



Sapardi Djoko Damono memberi testimoni bahwa "aku mau hidup seribu tahun lagi" ditulis saat sang penyair berusia 20 tahun. 6 tahun berikutnya ia meninggal dunia. beberapa larik puisinya telah menjelma semacam pepatah atau kata-kata mutiara. ia terkenal sebagai penyair yang memiliki vitalitas sekaligus kejalangan. ciri senimannya pun muncul seperti tidak memiliki pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, selalu kekurangan uang, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan.

sajak-sajak yang ditulis menjelang kematiannya menunjukkan sikap hidup yang matang dan mengendap meskipun umurnya baru 26 tahun. ia memang dianggap memainkan peranan menentukan dalam perkembanban sastra. ia tumbuh di zaman yang sangat ribut, menegangkan, dan bergerak cepat. peristiwa-peristiwa penting susul-menyusul. untuk pertama kalinya sejak dijajah Belanda, negeri ini membukakan diri lebar-lebar terhadap segala macam pengaruh dari luar. pemuda yang pendidikan formalnya tidak sangat tinggi ini harus menghadapi serba pengaruh itu. ia pun tidak hanya mengenal para sastrawan Belanda yang dicantumkan dalam pelajarn sekolah, tetapi juga membaca karya sastrawan sezaman dari Eropa dan Amerika.

seperti perubahan yang sangat cepat di sekelilingnya, Chairil Anwar pun tumbuh sangat cepat dan raganya layu dengan cepat pula. ketika meninggal dunia, mungkin sekali ia sudah berada di puncak kepenyairannya. tetapi, mungkin juga ia masih akan menghasilkan sajak-sajak yang lebih unggul lagi seandainya dia hidup lebih lama. beberapa sajaknya yang terbaik menunjukkan bahwa ia telah bergerak begitu cepat ke depan. bahkan bagi banyak penyair masa kini, taraf sajak-sajaknya tersebut bukan merupakan masa lampau tetapi masa depan yang mungkin hanya bisa dicapai dengan bakat, semangat, dan kecerdasan yang tinggi. sudah sejak semula ia dinilai sebagai penyair penting atau terbesar, setidaknya sesudah Perang Dunia 2. dalam kedudukan demikian, sikapnya berkesenian tentu bisa berpengaruh terhadap pandangan kesenian bangsa. bagaimanapun, ia tampil lebih menonjol sebagai sosok yang penuh semangat hidup dan sikap kepahlawanan.



Daftar puisi:

1942
Nisan dan Penghidupan.

1943
Diponegoro; Tak Sepadan; Sia-sia; Ajakan; Sendiri; Pelarian; Suara Malam; Aku (Semangat); Hukum; Taman; Lagu Biasa; Kupu Malam dan Biniku; Penerimaan; Kesabaran; Perhitungan; Kenangan; Rumahku; Hampa; Kawanku dan Aku; Bercerai; Aku; Cerita; Di Mesjid; Selamat Tinggal; Mulutmu Mencubit di Mulutku; Dendam; Merdeka; Kita Guyah Lemah; Jangan Kita di Sini Berhenti; 1943; Isa; dan Doa.

1944
Sajak Putih; Dalam Kereta; dan Siap-Sedia.

1945
Kepada Penyair Bohang; Lagu Siul; dan Malam.

1946
Sebuah Kamar; Kepada Pelukis Affandi; Dengan Mirat; Catetan Th. 1946; Buat Album D. S.; Nocturno (fragment); Cerita buat Dien Tamaela; Kabar Dari Laut; Senja di Pelabuhan Kecil; Cintaku Jauh di Pulau; "Betina"-nya Affandi; Situasi; Dari Dia; Kepada Kawan; dan Pemberian Tahu.

1947
Sorga; Sajak buat Basuki Resobowo; Dua Sajak buat Basuki Resobowo; Malam di Pegunungan; dan Tuti Artic.

1948
Perseteruan dengan Bung Karno; Sudah Dulu Lagi; Ina Mia; Perjurit Jaga Malam; Puncak; Buat Gadis Rasid; dan Selama Bulan Menyinari Dadanya.

1949
Mirat Muda, Chairil Muda; Buat Nyonya N.; Aku Berkisar antara Mereka; Yang Terempas dan Yang Putus; Derai-derai Cemara; dan Aku Berada Kembali.

Sajak-sajak Saduran
Kepada Peminta-minta dan Krawang-Bekasi.

*

4 April 2017

Lalu Aku


Bibliografi antologi puisi:
Radhar Panca Dahana. 2011. Lalu Aku (Sekumpulan Puisi). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



sajak-sajak di antologi ini dibagi menjadi tiga babak. babak pertama berjuluk Lalu Aku dengan muatan 17 sajak. babak kedua berjuluk Lalu Kau dengan muatan 14 sajak. babak terakhir berjuluk Lalu Akukau dengan muatan 14 sajak. sajak-sajak tersebut dilahirkan pada rentang tahun 2000 hingga 2010. di dalam bukunya beliau berkata bahwa "... kata harus ditemukan kembali. kata tidak selalu menjadi daratan yang statis, diam, dan tak bergerak. mungkin ia lautan yang senantiasa bergejolak, pergi-pulang, tiada henti. kata harus menemukan dirinya, yang tak lain menemukan manusia yang telah meninggalkan dan ia tinggalkan. maka, berkatalah. bukan hanya untuk mengerti tapi untuk menjadi. susunlah kata-kata hingga ia menjadi hidup yang berwaktu dan bercinta. susunlah ia jadi puisi sehingga ia memanusiakan kamu, sebagaimana sejarah waktu ada padamu, sejarah cinta membentukmu". beliau juga berkata, "biarlah puisi bergerak tiada henti, dan mayat manusia bangkit dari kubur adabnya. puisi akan menemukan dan menghidupkan manusia kembali. bagi yang terlena, yang mayat dalam kata-katanya, yang tak menggerakkan jiwa atau spirit manusia, yang tidak membongkar adab beserta fitnah dan tipuannya, yang terjebak dalam daratan yang membatu, ia akan menemui selalu puisi yang gagal, dalam hatinya yang beku".



Daftar puisi:

Lalu Aku
Sebut Namaku: Segera; Setan-Malaikat, Aku Menujumu; Tidur Aku Tidur Selalu; Dunia Fantasi; Hari Penghabisan Itu; Lidah Tak Bertahta; Lubang Pahlawan Bertubuh Aspal; Alam Adam Memfitnah Malam; Lelaki Sunyi Sendiri; Laluaku; Rumahku; Kamartamuku; Toiletku; Dapurku; Kantorku; Lotengku; dan Lautmati Tidurku.

Lalu Kau
Lelaki Tua Stasiun Kota; Yang Mati Sesore Bumi; Panggung Tuamu, Sobatku; Sisa Sore di Daster Misna; Batubara Menggeser Waktu, Acehku; Ragukan Aku Tanpa Ragu; Semangkuk Mi; Rahasia Masa; Aku Mencintaimu; Seindah Itukah Kamu?; Batu dan Seekor Ikan; Ibu yang Baik; Api Doy Menuju Gowa; dan Lenggokmu, Lenggok Waktuku.

Lalu Akukau
Akumu di Membran Waktu; Segala Cukup bagi Segala; Dunia Jembar Lidah Bergetar; Senjata Malam; Iblislah Nafsu; Iblislah Kamu; Televisi, Awal Subuh; Perawan di Balik Gunung; Celana Dalam; Dari Cinta yang Sederhana; Sebutir Kata dan Tempat Tidur; Pisau Kecil Pingkan Mambo; Hak; dan Mendengar.

*

2 Februari 2017

O Amuk Kapak



Bibliografi antologi puisi:
Sutardji Calzoum Bachri. 2002. O Amuk Kapak (Tiga Kumpulan Sajak). Cetakan kedua. Jakarta Timur: Yayasan Indonesia dan Majalah Horison.




buku ini merupakan kumpulan puisi dari tiga buku yaitu O (1973), Amuk (1977), dan Kapak (1979). sebagai penyair, Sutardji sudah menjadi bagian dari khazanah sastra Indonesia. ia menjadi salah satu ikon penting dalam perpuisian Indonesia. sajak-sajaknya telah dikutip dan diambil untuk beragam kepentingan mulai dari tulisan ilmiah hingga demonstrasi politik. bahkan, sajak-sajaknya disablonkan pada kaus anak-anak muda dan mahasiswa. kehadirannya dalam perpuisian Indonesia sangat menghebohkan dan memancing pro-kontra. berturut-turut lahir kumpulan sajaknya O, Amuk, dan kemudian Kapak. ketiga kumpulan sajaknya itu kemudian diterbitkan secara lengkap di bawah judul O, Amuk, Kapak. buku ini telah menjadi klasik dan dijadikan kajian dalam studi sastra di Fakultas Sastra atau Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra di seluruh Indonesia.

ia pernah berkata bahwa kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. kata adalah pengertian itu sendiri. dia bebas. dalam kesehari-harian kata cenderung digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian. kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri. di kesempatan lain ia juga berkata, “menyair adalah suatu pekerjaan yang serius. namun penyair tidak harus menyair sampai mati. dia boleh meninggalkan kepenyairannya kapan saja. tapi bila kau sedang menuliskan sajak, kau harus melakukannya secara sungguh-sungguh, seintens mungkin, semaksimal mungkin. kau harus melakukan pencarian-pencarian, kau harus mencari dan menemukan bahasa. yang tidak menemukan bahasa takkan pernah disebur penyair.



Daftar puisi:

O (Sajak-sajak 1966-1973)
Kredo Puisi; Ah; Mana Jalanmu; Mantera; Dapatkau?; Batu; Colonnes Sans Fin; Mari; Jadi; Puake; Pot; Herman; O; Daun; Biarkan; Solitude; Tragedi Winka & Sihkha; Q; Apa Kautahu?; Sculpture; Hilang (Ketemu); Obladi Oblada; Hyang; Kakekkakek & Bocahbocah; Ngiau; Hyang Tak Jadi; Malam Pengantin; dan Orang yang Tuhan.

Amuk (Sajak-sajak 1973-1976)
Amuk; Sudah Waktu; Denyut; Shang; Mesin Kawin; Sepisaupi; Kucing; Tik; Tapi; Sejak; Pil; Tangan; Tak; Luka; dan Kalian.

Kapak (Sajak-sajak 1976-1979)
Pengantar Kapak; Sajak Babi 1; Sajak Babi 3; Lalat; Tengah Malam Jam; Rahang; Hemat; Kapak; Doa; Sop; Kubur; Nuh; Perjalanan Kubur; Silakan Judul; Hujan; Warisan; Bayangkan; Gajah dan Semut; Para Peminum; Berdarah; Kukalung; Daging; Siapa; Walau; Satu; dan Belajar Membaca.

*

8 Agustus 2016

Tirani dan Benteng


Bibliografi antologi puisi:
Taufiq Ismail. 1933. Tirani dan Benteng (dua kumpulan puisi). Jakarta: Yayasan Ananda.



puisi-puisi di sana ditulis pada rentang tahun 1960 hingga 1966 di Pekalongan, Bogor, Yogyakarta, dan Jakarta. puisi-puisi itu dibagi menjadi tiga babak yaitu Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng (32 puisi), Tirani (18 puisi), dan Benteng (22 puisi). antologi puisi Tirani pernah terbit tiga kali di Gema Psychologi Universitas Indonesia, di Pengurus Besar Peladjar Islam Indonesia, dan di Biro Penerangan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. antologi puisi Benteng pernah terbit dua kali di Gema Psychologi dan Penerbit Faset. puisi-puisi pada antologi tersebut bertema kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan, angan-angan, cita-cita, dan tekad. puisi-puisi di sana menyiratkan angka termometer emosi zaman dan angka barometer politik negeri Indonesia pada saat itu.



Daftar puisi:

Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng
Bukit Biru, Bukit Kelu; Elegi Buat Sebuah Perang Saudara; Bilakah Kau akan Melintas di Depanku; Potret di Beranda; Pekalongan Lima Sore; Jam Kota; Alamat Tak Dikenal; Percakapan dengan Zaini; Dalam Gerimis; Alma Mater; Oda pada Van Gogh; Aku Belum Bisa Menyebutmu Lagi; Jun Takami, Berkatalah dengan Jelas; Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit; Syair Orang Lapar; Surat Ricarda Huch (9 April 1933); Surat Ricarda Huch (Masa Perang, 4 Nopember 1947); Formulir Ini; Suara; Pagi Terakhir di Sebuah Losmen Djalan Gerdjen; Adalah Bel Kecil di Jendela; Andong-andong Margomulyo; 2 September 1965, Pagi; 2 September 1965, Senja; Pikiran Sesudah Makan Malam, September; Sesudah Dua Puluh Tahun; Tjalkovski 1812; Catatan Tahun 1965; Obsesi Garis Miring; Oktober Hitam; dan Dengan Puisi, aku.

Tirani
Sebuah Jaket Berlumur Darah; Merdeka Utara; Harmoni; Jalan Segara; Karangan Bunga; Salemba; Tableau Menjelang Malam; Dari Catatan Seorang Demonstran; Percakapan Angkasa; Geometri; Aviasi; Mimbar; Arithmetik Sederhana; Depan Sekretariat Negara; 22 Tahun Kemudian; Seorang Tukang Rambutan pada Isterinya; Doa; dan Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini.

Benteng
Benteng; 6:30; Silhuet; Bendera; Nasihat-nasihat Kecil Orangtua pada Anaknya Berangkat Dewasa; Persetujuan; La Strada, atau Jalan Terpanggang; Dari Ibu Seorang Demonstran; Yell; Oda bagi Seorang Supir Truk; Horison; Rendez-vous; Kata itu, Suara Itu; Malam Sabtu; Kemis Pagi; Memang Selalu Demikian, Hadi; Pengkhianatan Itu Terjadi pada Tanggal 9 Maret; Bendera Laskar; Beberapa Urusan Kita; Surat Ini Adalah Sebuah Sajak Terbuka; Refleksi Seorang Pejuang Tua; dan Rijswijk 17.

*

3 Agustus 2016

Lagu Kelam Rembulan


Bibliografi antologi sajak:
Dody Kristianto. 2012. Lagu Kelam Rembulan. Sidoarjo: SARBIKITA publishing.



sajak-sajak di dalam antologi ini diidentifikasi sebagai makmum dari gerakan puisi gelap di Jawa Timur. lebih-lebih, sajak-sajak itu merupakan masa-masa awal (babak gelap) kepenyajakan sang penulis. hal itu diperkuat dengan munculnya diksi-diksi beraroma kelam atau gelap seperti mati, mayat, malam, darah, nanah, luka, ngeri, patah, kering, sekarat, nisan, tumbang, sepi, terbakar, hantu, dan sebagainya. gerombolan sajak-sajak tersebut dibagi menjadi tiga babak: babak pertama khusus bertarikh 2006 berjuluk Episode Simbolis dengan 12 muatan, babak kedua khusus bertarikh 2007 berjuluk Seperti Kebimbangan Hujan dengan 20 muatan, sedangkan babak ketiga khusus bertarikh 2008 berjuluk Mendung Melepuh dengan 8 muatan.



Daftar puisi:

2006 - Episode Simbolis
Melukis Titik Hujan; Alienasi Pohon-pohon; Episode Simbolis; Lanskap Persetubuhan; Memoar Menjadi Hujan; Sebuah Kesunyian dari Tanah Mayat; Kunamai Kesedihan; Semacam Obituari; Apokalipsa Bulan Merah; Krematorium Hantu; Requim Desember; dan Retorika Lonceng.

2007 - Seperti Kebimbangan Hujan
Surealisme Cinta; Sepanjang Perjalanan; Delta Sari Indah; Jl. Babatan II B No. 85; Aku Robohkan Monumen Kenangan; Seperti Kebimbangan Hujan; Kucari Wajahmu dalam Wajah-wajah Hujan; Aku Kehilangan Malam-malam; Rumah Kabut; Opus von Citizen; Pangkur Surabaya Selatan Pertengahan Malam; Musim Korak; Kuarungkan Seribu Surealita; Bulan Telanjang; Lanskap Agustus; Hujan dalam Selipat Surat; Aku Bayangkan Got yang Kau Pajang; Sebuah Sisa dari Agustus; Pulau Mati; dan Memimpikan Mendung.

2008 - Mendung Melepuh
Mendung Melepuh; Lagu Kelam Rembulan; Seupama Kitabmu; Mimpi Samun; Dari Musim Sarkasme Aku Menjumpaimu; Blurry; Syair Tanah Rekah; dan Syair dari yang Mati.

*

2 Agustus 2016

Buli-buli Lima Kaki


Bibliografi antologi puisi:
Nirwan Dewanto. 2010. Buli-buli Lima Kaki. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



puisi-puisi di dalam buku ini dibagi menjadi lima bab - pada buku, bab-bab tersebut dijuluk sebagai kaki - dengan tiap bab memuat sebelas judul puisi. puisi-puisi tersebut kebanyakan bertarikh antara 2008 hingga 2010. di kaki kesatu, puisi-puisi mengambil kehidupan fauna sebagai latar belakang seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, ikan, dan mungkin juga banyak fauna lain dalam bentuk tak bernama. di kaki kedua, puisi-puisi mengambil latar belakang berbagai avontur dan destinasi. umumnya, avontur tersebut ditandai dengan nama-nama berbagai tempat di benua Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan juga labirin-labirin abstrak lainnya. di kaki ketiga, puisi-puisi mengambil kosakata perihal tubuh manusia secara riil maupun samar untuk memuja puncak-puncak berahi. diksi-diksi perkelaminan banyak bertebaran di raga-raga puisi dalam bentuk matang, setengah matang, setengah mentah, dan bahkan mentah sekali. di kaki keempat, puisi-puisi di sana sedang membincangkan pengagungan untuk kehidupan puisi. di kaki kelima, puisi-puisi di sana menggunakan arah, bulan, musim, dan juga tempat dan waktu sebagai media penyampaian makna.



Daftar puisi:

Kaki Kesatu
Babi Merah Jambu; Senapang; Kobra; Telur Mata Sapi; Penunggang Kuda Hitam; Kopi Luwak; Hiu; Sapi Lada Hitam; Apel dan Roti; Batu Jenderal; dan Gajah Sulawesi.

Kaki Kedua
Jangkar Perunggu; Pelabuhan Udara; Potret Diri Forugh Farrokhzad; Soda Gembira; Piring Terbang; Roti; Jalan ke Vignole; Perempuan dari Magdala; Lazar; Biduanita Botak; dan Museum Birahi Suci.

Kaki Ketiga
Nosferatu; Bulan Madu; Virgo; Euis Sabarah kepada Asep Rudiana; Asep Rudiana kepada Euis Sabariah; Malam Pengantin Gaya Pujangga Baru; Langgam Merah-Biru; Puan; Peribahasa (1); Peribahasa (2); dan Peribahasa (3).

Kaki Keempat
Jam Malam; Khat; Dahaga; Pengiring; Tukang Pos; Palu; Belaka; Liburan; Tulisan pada Nisan; Pejalan Tidur Bulan Ramadan; dan Kuintet.

Kaki Kelima
Asal-usul Kebahagiaan; Doa Musim Semi; Setiap Tengah Malam; Danau; Pih; Magnolia; Hotel Felix Culpa; Telur Chicago; Peoni; Hujan di Monona; dan Doa Musim Gugur.

*