7 Januari 2017

Orang-orang Bloomington


Bibliografi antologi stori:
Budi Darma. 2004. Orang-orang Bloomington. Jakarta: Metafor Intermedia Indonesia.



1. Laki-laki Tua Tanpa Nama
stori ini ditulis di London pada 1976. bercerita tentang seorang mahasiswa di mana ia menyewa sebuah loteng pada sebuah rumah di Jalan Fess. di sana hanya ada tiga rumah, yaitu rumah milik Nyonya Nolan, Nyonya MacMillan, dan Nyonya Casper. ketiganya ialah janda dan hidup sendirian. sang mahasiswa ini menempati rumah kedua atau rumah tengah milik Nyonya MacMillan. selama tinggal di sana ia dapat melihat dan mengingat kebiasaan-kebiasaan orang-orang itu. nyonya-nyonya itu sudah tua dan punya batas kehidupan mereka sendiri. mereka tidak suka batas tersebut diganggu. suatu ketika seorang laki-laki tua menyewa loteng Nyonya Casper. hal itu membuatnya penasaran. ia ingin berkenalan dan berbincang-bincang dengan laki-laki tua itu sebagai sesama pendatang, tapi semua kesempatan sirna. ia juga pernah melihat laki-laki itu di kampusnya beberapa kali namun tidak ada kans untuk bertatap muka secara dekat. laki-laki itu pun lambat laun menjadi berita di koran milik kampus lantaran kerap terlihat di sana. pada suatu ketika, ia akhirnya dapat melihat laki-laki itu dari dekat namun perkenalan antarmereka ternyata tidak dapat terjadi.

2. Joshua Karabish
stori ini ditulis di Paris pada 1976. bercerita perihal seorang laki-laki bernama Joshua. ia seorang lelaki lembut-halus, suka puisi, musik klasik, opera, dan sebagainya. hal-hal itu amat berbeda dengan teman-teman lainnya sehingga ia dijauhi. lebih-lebih, ia memunyai penyakit sehingga teman-temannya merasa jijik untuk dekat dengan Joshua. untungnya, ia memunyai kawan di mana kawan tersebut sama sekali tidak terganggu dengan keunikan dan kekurangan Joshua. teman sekamarnya itu pun akhirnya mengetahui penyakit Joshua tersebut secara lebih rinci. kata dokter, penyakit itu akan dibawanya sampai mati. sebelum Joshua pulang untuk liburan, ia menitipkan puisi-puisinya kepada kawan sekamarnya. kemudian, surat ibu Joshua datang belakangan dan mengabarkan bahwa Joshua sudah meninggal. masalah muncul ketika temannya merasa bahwa penyakit Joshua menular kepadanya. hal itu membuatnya khawatir, namun penjelasan beberapa dokter membuatnya tenang setelah ia tahu bahwa ia dalam keadaan sehat kendati gejala-gejala penyakit pada diri Joshua terdapat padanya. puisi-puisi Joshua di tangannya suatu ketika dikirimkan untuk diikutkan lomba dengan namanya sendiri, bukan nama Joshua. ia merasa sedikit bersalah untuk perbuatan tersebut, namun ia punya alamat sendiri untuk menyelesaikan masalah itu.

3. Keluarga M
stori ini ditulis di Indiana pada 1979. bercerita mengenai seseorang penghuni apartemen. ia mendapat masalah ketika mobilnya terkesan digores dengan sengaja oleh seseorang di tempat parkir. ia mencurigai dua orang anak kakak-adik sampai ia melabrak kedua orang tua kakak-adik itu. kesan terhadap kakak-adik itu kian berlanjut menjadi buruk. di matanya, kakak-adik tersebut adalah produk kekuarga tidak bermartabat. ia juga mengutuk kakak-adik itu agar mendapat celaka. pada liburan thanksgiving keluarga kakak-adik itu mengalami kecelakaan. hal itu membuatnya berpikir untuk tidak mendoakan mereka agar mendapat celaka lagi. saat apartemen mengalami kebakaran, ia trenyuh melihat kemampuan mereka untuk menyelamatkan diri kendati harus bersusah payah. perspektifnya terhadap keluarga itu pun berubah. tak lama kemudian keluarga itu pindah dari apartemen dan perilaku mereka menyisakan kesan di hatinya.

4. Orez
stori ini ditulis di Bloomington pada 1979. bercerita tentang seorang laki-laki beristri dan punya anak kecil. ia tahu dari ayah istrinya sebelum menikahi istrinya bahwa saudara-saudari istrinya mati karena cacat kecuali calon istrinya. ayah istrinya hanya ingin mengingatkannya bahwa lebih baik ia berpikir berkali-kali sebelum ia menikahi anaknya lantaran adanya potensi kecacatan tersebut. laki-laki itu pun mengambil risiko. bayi pertama, kedua, dan ketiga gugur dan meninggal. pada kehamilan keempat istrinya berusaha untuk menggugurkannya dengan beragam cara, namun tidak berhasil. bahkan ia tidak sungkan untuk menawarkan kepada laki-laki itu agar turut membantu pengguguran bayi tersebut. tapi, bayi itu pun akhirnya lahir dan memang cacat seperti kekhawatiran sebelumnya. namun, ia tumbuh menjadi anak luar biasa. tapi, keluarbiasaan itu membuat ayah-ibunya jadi sengsara. laki-laki itu pernah mencoba untuk membunuh anak itu, namun gagal. akhirnya, kendati dalam keputusasaan tertinggi, ia dan istrinya memasrahkan takdir anak mereka di tangan anak mereka sendiri.

5. Yorrick
stori ini ditulis di Bloomington pada 1979. bercerita perihal Jalan Grant di mana seseorang telah jatuh cinta kepadanya berdasarkan struktur jalan tersebut. lalu, dia pun merasa jatuh cinta dengan seorang perempuan penghuni salah satu rumah di jalan itu ketika ia tahu bahwa wanita itu kerap terlihat di loteng. untuk mendekatinya, dia pun mencoba untuk bertanya-tanya perihal sebuah loteng di seberang loteng sang wanita. dia datang sebagai seorang calon penyewa. ia ditemui sang pemiliknya yaitu Nyonya Ellison. Nyonya Ellison pun menceritakan riwayat dua kamar di loteng itu di mana keduanya sudah lama tak dipakai orang. dia pun memerlukan waktu untuk berpikir sebelum mengambil atau menolak loteng tersebut. suatu waktu sang lelaki bertemu dengan wanita incarannya di jalan. dia pun benar-benar jatuh cinta setelah pertemuan itu. kali lain dia mendapat kesempatan berbicara dengan si wanita. ia bernama Catherine dan Catherine menjawab semua pertanyaan dari sang lelaki dengan baik. tapi, si wanita tidak menunjukkan gejala apa pun untuk mencoba mengenal sang lelaki. hal itu tidak jadi masalah untuk sang lelaki sehingga ia pun akhirnya pindah ke loteng Nyonya Ellison di mana ia dapat melihat loteng Catherine di seberang. lelaki itu sering bertemu dengan Catherine, tapi perempuan itu tetap pasif seperti biasanya. suatu ketika ia kedatangan teman pria sebagai tetangga penghuni kamar sebelah. namanya Yorrick. kehadirannya menimbulkan gangguan untuk lelaki itu dalam banyak hal. ternyata Chaterine malah ingin mendekat ke Yorrick. kendati tidak ada tanda-tanda saling mencintai, aktivitas intim mereka terasa menyakitkan di mata sang lelaki. suatu ketika ada wanita lain bernama Caroline. ia dan keluarganya baru datang dari suatu tempat. sontak lelaki itu mencintai Caroline ketika ia merasa tiada peluang untuk mendapatkan Catherine. masalahnya Caroline sedang didekati oleh Kenneth, seorang penyewa loteng di rumah lain. itu membuat sang lelaki benar-benar tidak terima. lambat laun hubungan antarmanusia pun kian jelas: Caroline untuk Yorrick dan Catherine untuk Kenneth. mereka pun berencana untuk menikah dan mengundang si lelaki, namun laki-laki itu punya rencana lain.

6. Ny. Elberhart
stori ini ditulis di Bloomington pada 1979. lelaki dalam cerita itu mengetahui Ny. Elberhart secara tak sengaja ketika sang nyonya terlibat konflik dengan seorang tukang pos. Ny. Elberhart menuduh sang tukang pos tak adil padanya karena tetangga-tetangganya mendapat surat sedangkan ia tidak. lelaki itu mulai memperhatikannya ketika ia melewati depan rumahnya. perempuan itu terlihat kotor, begitu pula pekarangan depan rumahnya. dari beberapa tetangga ia tahu bahwa suaminya telah meninggal dan ia tidak punya keluarga. lelaki itu mencoba mengirim surat gelap untuk menegur kekotoran perempuan tersebut. setelah sepekan lebih tidak melewati rumah Ny. Elberhart, laki-laki itu terkejut setelah tahu pekarangan rumah sang nyonya telah bersih. beberapa hari kemudian ia terdengar dirawat di rumah sakit. lelaki itu merasa bersalah andai sakitnya disebabkan oleh kecapaian membersihkan rumah lantaran surat gelapnya. ia pun memberanikan diri untuk menjenguknya dan memperkenalkan diri sebagai orang biasa di mana ia sering melambaikan tangan ketika lewat di depan rumahnya. sejak saat itu sang lelaki menjenguk beliau tiap hari. para perawat mengatakan bahwa beliau hanya kecapaian, tapi sang lelaki tidak percaya. bila sekadar kecapaian, beliau semestinya diberi vitamin saja dan dibolehkan pulang, bukan malah diberi banyak obat berbagai macam dan berkali-kali dibawa ke beragam ruang pemeriksaan. setelah sering menjenguk, sang lelaki mulai merasa ada perubahan pada dirinya sendiri: selalu mengantuk, sukar bangun, cepat capai, dan sering merasa lapar. seorang dokter menyatakan bahwa daya tahannya menurun. Ny. Elberhart akhirnya dibolehkan pulang dan sang lelaki masih sering mengunjungi wanita tersebut di rumahnya. wanita itu pernah bercerita bahwa ia punya suami, Charles Elberhart. setiap kali Charles sakit dan sang istri merawatnya, maka penyakit itu pun juga akan menyerang Ny. Elberhart. dua saudaranya mati karena tertular penyakit orang lain. di waktu-waktu selanjutnya, sang lelaki kerap membantu ini-itu di rumah si nyonya. sang lelaki mencurigai berdasarkan percakapan mereka bahwa Ny. Elberhart memunyai ego tinggi. wanita itu menyalahkan orang lain di mana merekalah penyebab penyakit-penyakit di dalam tubuh wanita tersebut. itulah kenapa ia berani menyatakan pendapat bahwa sebenarnya sang lelakilah penyebab ia dirawat di rumah sakit. suatu ketika sang lelaki ke rumah sakit untuk berusaha menyembuhkan penyakitnya melalui operasi. ia bertemu Ny. Elberhart di sana namun belum tahu sakit apa. wanita itu meminta maaf secara tulus karena pada pertemuan terakhir ia telah menuduh bahwa sang lelakilah penyebab penyakitnya. sang lelaki akhirnya dibolehkan pulang setelah dirawat di sana. ia sempat menelepon Ny. Elberhart ketika wanita itu masih berada di rumah sakit. tak lama kemudian nyonya tersebut meninggal dunia. melalui pengacaranya, nyonya itu telah mewariskan uang dan rumahnya kepada sang lelaki. lelaki itu memberikan penghormatan terakhirnya di rumah duka dan di pemakamannya. lelaki itu akhirnya menyumbangkan uang dan uang hasil penjualan rumah warisan nyonya tersebut ke sebuah yayasan. dulu, ia pernah mengetahui sebuah perkumpulan para penyair pembaca puisi di sekitar tempatnya. ia akhirnya mengingat perkumpulan tersebut ketika ia ikut salah satu acara mereka. hal itu membuatnya gemar menulis puisi dalam satu pekan ke depan dan mengirimkan puisi-puisi tersebut ke berbagai media cetak dengan menggunakan nama si mendiang. sayangnya, beberapa media menyatakan tidak dapat mencetak puisi-puisi tersebut. akhirnya ada satu media memuat puisi mendiang. lelaki itu senang meski ia tahu bahwa puisi mendiang akan diperlakukan sama seperti puisi-puisi lain di media cetak tersebut.

7. Charles Lebourne
stori ini ditulis di Bloomington pada 1979. stori ini mengisahkan seorang lelaki di mana ia mendapat gangguan secara tidak langsung dari sebuah kamar di apartemen seberang. gangguan itu berupa pantulan sinar matahari dari jendela kamarnya dan lampu milik sang penghuni kamar tersebut. ia akhirnya mencari tahu siapa penghuninya dan ternyata ia bernama Charles Lebourne. itu ialah nama ayahnya, namun ia ingin menyelidiki apakah ia memang ayahnya atau bukan karena gambaran tentang ayahnya dari penjelasan ibunya memang tidak jelas. suatu saat ia berhasil menemukan seorang laki-laki tua dan dia memunyai ciri-ciri secara insting sebagai ayah sang lelaki. ia memang menempati kamar apartemen pengganggu sang lelaki muda dan mereka berbicara di sana. Charles pun akhirnya mengaku kalau ia memang ayah sang lelaki. di pertemuan selanjutnya mereka membahas ibu sang lelaki di mana Charles tak pernah menepati janji untuk menikahinya. kendati begitu sang lelaki tetap menganggap Charles sebagai ayahnya. ia membuktikannya dengan jalan membayarkan tunggakan sewa apartemen, cicilan mobil, membelikan pakaian baru, membawanya ke restoran, dan membayar barang-barang belanjanya. meski begitu, ia tetap mengontrol Charles secara teratur. di waktu kemudian Charles mengalami kecelakaan. ia mengalami gegar otak dan patah tangan kanan. Charles akhirnya tinggal di sebuah loteng dengan anaknya. segala kebutuhannya dicukupi namun aroma dendam untuk membalas perlakuannya kepada sang istri membuat sang lelaki melakukan beragam kejahatan kecil kepada ayahnya. sakit ayahnya kian menjadi-jadi dan itu sebenarnya merepotkan sang anak. meski begitu, sang anak tetap menghormatinya dengan cara menemaninya sesanggup mungkin.

*

8 Agustus 2016

Tirani dan Benteng


Bibliografi antologi puisi:
Taufiq Ismail. 1933. Tirani dan Benteng (dua kumpulan puisi). Jakarta: Yayasan Ananda.



puisi-puisi di sana ditulis pada rentang tahun 1960 hingga 1966 di Pekalongan, Bogor, Yogyakarta, dan Jakarta. puisi-puisi itu dibagi menjadi tiga babak yaitu Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng (32 puisi), Tirani (18 puisi), dan Benteng (22 puisi). antologi puisi Tirani pernah terbit tiga kali di Gema Psychologi Universitas Indonesia, di Pengurus Besar Peladjar Islam Indonesia, dan di Biro Penerangan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. antologi puisi Benteng pernah terbit dua kali di Gema Psychologi dan Penerbit Faset. puisi-puisi pada antologi tersebut bertema kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan, angan-angan, cita-cita, dan tekad. puisi-puisi di sana menyiratkan angka termometer emosi zaman dan angka barometer politik negeri Indonesia pada saat itu.



Daftar puisi:

Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng
Bukit Biru, Bukit Kelu; Elegi Buat Sebuah Perang Saudara; Bilakah Kau akan Melintas di Depanku; Potret di Beranda; Pekalongan Lima Sore; Jam Kota; Alamat Tak Dikenal; Percakapan dengan Zaini; Dalam Gerimis; Alma Mater; Oda pada Van Gogh; Aku Belum Bisa Menyebutmu Lagi; Jun Takami, Berkatalah dengan Jelas; Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit; Syair Orang Lapar; Surat Ricarda Huch (9 April 1933); Surat Ricarda Huch (Masa Perang, 4 Nopember 1947); Formulir Ini; Suara; Pagi Terakhir di Sebuah Losmen Djalan Gerdjen; Adalah Bel Kecil di Jendela; Andong-andong Margomulyo; 2 September 1965, Pagi; 2 September 1965, Senja; Pikiran Sesudah Makan Malam, September; Sesudah Dua Puluh Tahun; Tjalkovski 1812; Catatan Tahun 1965; Obsesi Garis Miring; Oktober Hitam; dan Dengan Puisi, aku.

Tirani
Sebuah Jaket Berlumur Darah; Merdeka Utara; Harmoni; Jalan Segara; Karangan Bunga; Salemba; Tableau Menjelang Malam; Dari Catatan Seorang Demonstran; Percakapan Angkasa; Geometri; Aviasi; Mimbar; Arithmetik Sederhana; Depan Sekretariat Negara; 22 Tahun Kemudian; Seorang Tukang Rambutan pada Isterinya; Doa; dan Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini.

Benteng
Benteng; 6:30; Silhuet; Bendera; Nasihat-nasihat Kecil Orangtua pada Anaknya Berangkat Dewasa; Persetujuan; La Strada, atau Jalan Terpanggang; Dari Ibu Seorang Demonstran; Yell; Oda bagi Seorang Supir Truk; Horison; Rendez-vous; Kata itu, Suara Itu; Malam Sabtu; Kemis Pagi; Memang Selalu Demikian, Hadi; Pengkhianatan Itu Terjadi pada Tanggal 9 Maret; Bendera Laskar; Beberapa Urusan Kita; Surat Ini Adalah Sebuah Sajak Terbuka; Refleksi Seorang Pejuang Tua; dan Rijswijk 17.

*

3 Agustus 2016

Lagu Kelam Rembulan


Bibliografi antologi sajak:
Dody Kristianto. 2012. Lagu Kelam Rembulan. Sidoarjo: SARBIKITA publishing.



sajak-sajak di dalam antologi ini diidentifikasi sebagai makmum dari gerakan puisi gelap di Jawa Timur. lebih-lebih, sajak-sajak itu merupakan masa-masa awal (babak gelap) kepenyajakan sang penulis. hal itu diperkuat dengan munculnya diksi-diksi beraroma kelam atau gelap seperti mati, mayat, malam, darah, nanah, luka, ngeri, patah, kering, sekarat, nisan, tumbang, sepi, terbakar, hantu, dan sebagainya. gerombolan sajak-sajak tersebut dibagi menjadi tiga babak: babak pertama khusus bertarikh 2006 berjuluk Episode Simbolis dengan 12 muatan, babak kedua khusus bertarikh 2007 berjuluk Seperti Kebimbangan Hujan dengan 20 muatan, sedangkan babak ketiga khusus bertarikh 2008 berjuluk Mendung Melepuh dengan 8 muatan.



Daftar puisi:

2006 - Episode Simbolis
Melukis Titik Hujan; Alienasi Pohon-pohon; Episode Simbolis; Lanskap Persetubuhan; Memoar Menjadi Hujan; Sebuah Kesunyian dari Tanah Mayat; Kunamai Kesedihan; Semacam Obituari; Apokalipsa Bulan Merah; Krematorium Hantu; Requim Desember; dan Retorika Lonceng.

2007 - Seperti Kebimbangan Hujan
Surealisme Cinta; Sepanjang Perjalanan; Delta Sari Indah; Jl. Babatan II B No. 85; Aku Robohkan Monumen Kenangan; Seperti Kebimbangan Hujan; Kucari Wajahmu dalam Wajah-wajah Hujan; Aku Kehilangan Malam-malam; Rumah Kabut; Opus von Citizen; Pangkur Surabaya Selatan Pertengahan Malam; Musim Korak; Kuarungkan Seribu Surealita; Bulan Telanjang; Lanskap Agustus; Hujan dalam Selipat Surat; Aku Bayangkan Got yang Kau Pajang; Sebuah Sisa dari Agustus; Pulau Mati; dan Memimpikan Mendung.

2008 - Mendung Melepuh
Mendung Melepuh; Lagu Kelam Rembulan; Seupama Kitabmu; Mimpi Samun; Dari Musim Sarkasme Aku Menjumpaimu; Blurry; Syair Tanah Rekah; dan Syair dari yang Mati.

*

2 Agustus 2016

Buli-buli Lima Kaki


Bibliografi antologi puisi:
Nirwan Dewanto. 2010. Buli-buli Lima Kaki. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



puisi-puisi di dalam buku ini dibagi menjadi lima bab - pada buku, bab-bab tersebut dijuluk sebagai kaki - dengan tiap bab memuat sebelas judul puisi. puisi-puisi tersebut kebanyakan bertarikh antara 2008 hingga 2010. di kaki kesatu, puisi-puisi mengambil kehidupan fauna sebagai latar belakang seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, ikan, dan mungkin juga banyak fauna lain dalam bentuk tak bernama. di kaki kedua, puisi-puisi mengambil latar belakang berbagai avontur dan destinasi. umumnya, avontur tersebut ditandai dengan nama-nama berbagai tempat di benua Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan juga labirin-labirin abstrak lainnya. di kaki ketiga, puisi-puisi mengambil kosakata perihal tubuh manusia secara riil maupun samar untuk memuja puncak-puncak berahi. diksi-diksi perkelaminan banyak bertebaran di raga-raga puisi dalam bentuk matang, setengah matang, setengah mentah, dan bahkan mentah sekali. di kaki keempat, puisi-puisi di sana sedang membincangkan pengagungan untuk kehidupan puisi. di kaki kelima, puisi-puisi di sana menggunakan arah, bulan, musim, dan juga tempat dan waktu sebagai media penyampaian makna.



Daftar puisi:

Kaki Kesatu
Babi Merah Jambu; Senapang; Kobra; Telur Mata Sapi; Penunggang Kuda Hitam; Kopi Luwak; Hiu; Sapi Lada Hitam; Apel dan Roti; Batu Jenderal; dan Gajah Sulawesi.

Kaki Kedua
Jangkar Perunggu; Pelabuhan Udara; Potret Diri Forugh Farrokhzad; Soda Gembira; Piring Terbang; Roti; Jalan ke Vignole; Perempuan dari Magdala; Lazar; Biduanita Botak; dan Museum Birahi Suci.

Kaki Ketiga
Nosferatu; Bulan Madu; Virgo; Euis Sabarah kepada Asep Rudiana; Asep Rudiana kepada Euis Sabariah; Malam Pengantin Gaya Pujangga Baru; Langgam Merah-Biru; Puan; Peribahasa (1); Peribahasa (2); dan Peribahasa (3).

Kaki Keempat
Jam Malam; Khat; Dahaga; Pengiring; Tukang Pos; Palu; Belaka; Liburan; Tulisan pada Nisan; Pejalan Tidur Bulan Ramadan; dan Kuintet.

Kaki Kelima
Asal-usul Kebahagiaan; Doa Musim Semi; Setiap Tengah Malam; Danau; Pih; Magnolia; Hotel Felix Culpa; Telur Chicago; Peoni; Hujan di Monona; dan Doa Musim Gugur.

*

9 Juli 2016

Madame Bovary


Bibliografi novel versi asli:
Gustave Flaubert. 1857. Madame Bovary. Paris: Michel Lévy Frères.

Bibliografi novel versi Indonesia:
Gustave Flaubert. 2010. Madame Bovary. Diterjemahkan oleh Santi Hendrawati. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.



Emma ialah seorang perempuan muda. ibunya telah meninggal dan ia tinggal bersama ayahnya. ayahnya ialah seorang petani kaya raya. suatu saat ayahnya mengalami patah kaki dan seorang dokter didatangkan untuk mengobati. dokter itu bernama Charles Bovary. ia seorang lulusan S1 mahasiswa kedokteran. ia berhasil menyembuhkan penyakit itu. Emma pun senang sang ayah dapat sembuh dan ia mulai menaruh perhatian kepada Charles saat Charles berkali-kali datang untuk mengontrol kesembuhan ayahnya. akhirnya mereka menikah dan Emma pun terkenal dengan sebutan Madame Bovary.

saat berumur tiga belas tahun Emma pernah masuk ke asrama biara. ia mulai mengenal penderitaan-penderitaan manusia dari buku dan gambar. ia juga suka dengan kisah cinta pada cerita-cerita karya sastra dan hal ini berlanjut hingga ia berumah tangga. hal itu membuat wawasan Emma menjadi terpengaruh. ironisnya, Charles datar-datar saja dalam menjalani rumah tangga. ia hanya berfokus pada pekerjaan tanpa mengapresiasi Emma secara benar. sebaliknya, Emma menunjukkan diri sebagai istri tersayang.

suatu saat mereka mendapat undangan jamuan makan dan pesta dansa penuh kemewahan. Emma benar-benar menikmati betapa indah dan enak kemewahan tersebut. hal itu sangat berbeda jika dibanding dengan dinginnya kehidupan rumah tangganya. pemikiran Emma tersebut juga diperparah dengan artikel-artikel pada majalah wanita di mana ia berlangganan secara berkala. Emma frustasi dengan kondisi tersebut sehingga ia sakit dan Charles menganggap bahwa lingkungan di sanalah sebagai penyebab. mereka pun akhirnya pindah ke kota lain.

di tempat baru, Emma berkenalan dengan Léon Dupuis, seorang karyawan seorang notaris. ia terkenal santun. ia menyukai musik dari Jerman dan suka membaca puisi. perbincangan mereka pun membawa mereka ke arah saling menyukai. Emma punya suami, putri, dan rumah tangga sehingga ia tidak dapat melangkah lurus ke depan untuk benar-benar mencintai Léon. ia merasa terjebak banyak norma dan tersiksa lantaran hasrat kasih sayang dan kemewahan dunia pada diri Léon tidak dapat ia raih. di dalam hati ia menyalahkan Charles. Léon pun akhirnya pergi untuk melanjutkan studi hukum di Paris.

Di suatu waktu, Rodolphe Boulanger datang untuk mengobatkan anak buahnya kepada Charles. Emma dan Rodolphe pun bertemu. lelaki itu tertarik dengan Emma. pada sebuah pekan raya lelaki itu berhasil membuat kesempatan untuk berjalan dengan Emma. bahkan, ia dapat mengajak Emma masuk ke gedung balai kota dan duduk di dekat jendela untuk menonton pekan raya sebab lelaki itu punya reputasi dan wibawa baik. di sana lelaki itu merayu dan mengagumi Emma berkali-kali. di rumah Emma – ketika Emma sedang sendirian – lelaki itu terang-terangan menyatakan cinta. ia ingin Emma dapat menikah dengannya dan menjalani sisa kehidupan mereka dalam rumah tangga. lagi-lagi Emma terjebak di antara hasrat dan kodrat, tapi kali ini Emma berani untuk mengambil jalan perselingkuhan.

di kota itu Emma menunjukkan diri sebagai orang santun terhadap pasien suaminya dan bersikap murah hati terhadap orang-orang miskin, namun sebenarnya tidak ada keikhlasan di sana. utang mereka kian meninggi dan Emma berharap dapat pergi meninggalkan rumah tangga busuknya dan mencipta rumah tangga baru dengan Rodolphe. namun, kisah mereka tidaklah demikian. bila lambat laun cinta Emma kepada Rodolphe kian menguat, maka cinta Rodolphe kepada Emma kian menghambar. lelaki itu sudah berkali-kali berganti wanita dan ia pun mencapai titik di mana ia menganggap Emma seperti wanita-wanita lain. akhirnya, lelaki itu pamit kepada Emma untuk pergi melalui sebuah surat.

pernah suatu waktu Charles mengajak Emma untuk menonton opera sebagai bentuk penyegaran hubungan kendati Charles sendiri sebenarnya masih belum peka terhadap keinginan Emma. Emma hanyut terhadap kisah percintaan pada opera itu. puncaknya, ia bertemu Léon setelah tiga tahun tidak bersua. saat bersekolah, Léon sendiri kerap memikirkan Emma. tatkala punya kesempatan bicara berdua di rumah Emma, Emma dan Léon saling mengungkap kerinduan dan kesedihan masing-masing. mereka sama-sama saling butuh, tapi terhalang oleh kenyataan.

kepahitan batin Emma kian menjadi-jadi. ia melihat Charles sebagai lelaki hina, lemah, dan tidak penting. ia juga tidak menghormati ibu Charles dan hal itu membuat ibu Charles juga tidak menghormati Emma. Emma pun berniat untuk menguasai warisan rumah tangga mereka dan sialnya Charles cuma tahu bahwa Leonlah ahli hukum terpercaya. hal tersebut menjadi kans bagus untuk Emma selama tiga hari untuk berkonsultasi dengan Léon. Emma dan Léon pun memanfaatkan kesempatan itu sebagai bulan madu tidak resmi dan mereka menyewa kamar di sebuah hotel dan pergi ke beberapa tempat.

Emma ingin meningkatkan kualitas bermain piano dan Charles memberi izin kepada sang istri ke kota sekali dalam sepekan untuk kursus piano. kemampuan Emma memang benar-benar meningkat, namun ia juga memanfaatkan waktu untuk bertemu Léon. Léon benar-benar bahagia dapat menikmati Emma. segala perjuangannya telah tercapai dan ia sedang asyik di sana. Emma sendiri mulai membangun kebohongan-kebohongan di hadapan Charles untuk menutupi perburuan hasrat pribadi.

Léon sendiri benar-benar takluk kepada Emma. Emma bukan jadi kekasih simpanan Léon. justru sebaliknya: Léon menjadi kekasih simpanan Emma. Emma memanjakan lelaki itu secara penuh dengan layanan kelas tinggi. hal itu membuatnya terus mengalami kesulitan keuangan. ia pun melakukan berbagai macam hal untuk terus bertahan hidup dengan jalan gali lubang dan tutup lubang tanpa sepengetahuan sang suami. di satu sisi, Emma suka berbelanja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. hal itu membuat utang kian menumpuk sehingga ia menjual sebuah rumah tanpa diketahui anggota keluarga. ibu Charles pun mengetahui perbuatan boros Emma tersebut melalui perabot-perabot rumah tangga tersebut.

jatuh tempo pembayaran utang sudah berakhir dan rumah Charles-Emma siap disita. Emma sudah tidak punya jalan lagi untuk menunda keputusan tersebut. barang-barang rumah tangga mereka pun kemudian diumumkan untuk diobral. ia meminta tolong kepada Léon dan Rodolphe, namun kedua lelaki tersebut tidak mampu. Emma mencoba bunuh diri dengan memakan serbuk beracun dari sebuah apotek. Charles dan tetangga mereka berusaha untuk menolong Emma. dua dokter juga didatangkan untuk membantu Charles menyelamatkan Emma. Emma sempat sekarat selama beberapa hari, tapi kemudian ia meninggal dunia. keluarga Emma dan para tetangga mengantar jenazah Emma ke peristirahatan terakhir. ironisnya, persoalan utang milik Emma masih mengejar Charles. reputasi Charles juga hancur sehingga tidak ada orang sudi menemui. tapi, Charles selalu tegar dan bahagia bila melihat keceriaan Berthe, putrinya.

surat-surat cinta Emma kepada Léon dan Rodolphe tiba-tiba ditemukan Charles secara tidak sengaja. hal itu membuat mental Charles terpuruk. setelah itu, Charles meninggal dunia. Berthe kemudian diasuh oleh ibu Charles. tidak lama kemudian, ibu Charles juga meninggal dunia. ayah Emma, Monsieur Rouault, sedang lumpuh sehingga Berthe diasuh sang bibi. di masa-masa berikutnya Berthe hidup dalam kemiskinan dan harus bekerja keras untuk tetap dapat menjalani hidup.

*

8 Juli 2016

Birdman



Bibliografi novel versi asli:
Mo Hayder. 1999. Birdman. Canada: Seal Books.

Bibliografi novel versi Indonesia:
Mo Hayder. 2007. Birdman. Diterjemahkan oleh Basfin Siregar. Jakarta: Dastan Books.



pada dini hari di akhir Mei, Inspektur Detektif Jack Caffery mantan seorang CID[1] dan kini baru menjadi seorang tim B dari AMIP[2] mendatangi tempat kejadian perkara sebuah pembunuhan sebagai kasus pertamanya di dekat bangunan Millennium Dome di Greenwich Utara. seorang wanita setengah badan bawah ditanam pada beton dan setengah badan atas terbungkus plastik. kondisinya mengerikan dengan sayatan otopsi berbentuk huruf Y di tubuh depan, pembedahan pada payudara, dan tanda-tanda berteka-teki lain. hal itu membuat Jack tidak mampu melepas kengerian tersebut secara cuma-cuma di hari-hari berikutnya.

empat mayat ditemukan kemudian. mereka semua telah diautopsi untuk penyelidikan. hipotesis sementara seorang patolog bernama Harsha Krishnamurthi menyatakan bahwa mereka semua adalah pekerja seks dan dibunuh seketika dengan teknik cerdas dan aneh. berdasarkan kondisi korban, setidaknya pelaku diketahui memiliki pemahaman perihal dasar-dasar pembedahan. kasus-kasus itu pun menunjukkan bahwa peristiwa tersebut merupakan pembunuhan serial. pelaku memberi jejak pada semua tubuh korban. jejak itu dijahit di dekat jantung, di dalam rongga dada secara sengaja. jejak itu adalah seekor burung kecil.

ditemani Sersan Detektif Paul Essex, Jack mulai mendatangi kerabat-kerabat korban untuk mendapatkan keterangan tentang para korban. mereka mendapat fakta awal bahwa kelima korban pembunuhan terkait dengan pub The Dog and Bell di Timur Greenwich. tempat tersebut biasa digunakan para pecandu dan pekerja seks untuk berkumpul. kesimpulan Krishnamurthi di kemudian hari juga membuat mereka terkejut. pertama, si pelaku ternyata memasukkan burung-burung ke dalam tubuh korban dalam keadaan hidup dan membiarkan burung-burung itu mati di sana. kedua, si pelaku diidentifikasi sebagai seorang nekrofilia berdasarkan penyelidikan lebih lanjut.

sang pengidap nekrofilia sendiri memunyai kenangan buruk dengan ibu dan ayahnya tatkala ia masih anak-anak dan beranjak dewasa. kenangan tersebut membentuk kepribadiannya sebagai orang abnormal dan kian menjadi-jadi ketika ia belajar di sekolah medis United Medical and Dental School (UMDS). keabnormaannya dipicu oleh mayat seorang wanita untuk keperluan praktik. fantasi liarnya muncul dan didukung pula dengan mengonsumsi obat-obat terlarang. ia amat terobsesi terhadap diamnya (ketenangan) seorang wanita dan ia ingin menggagahinya dalam kondisi demikian. ia pun mendapat pengalaman nekrofilia pertamanya dan hal tersebut terus berlanjut. mayat-mayat itu pun segera ia singkirkan setelah tidak lagi digunakan dan mayat-mayat itu ditemukan oleh polisi lalu ditangani Jack, Paul, dan teman-teman mereka untuk penyelidikan.

melalui sebuah koran, sang pengidap nekrofilia tahu bahwa polisi telah berhasil mengungkap identitas empat korbannya. pada tahap itu, ia cemas dan tidak tahu harus berbuat apa. saat mengendarai mobil di keramaian kota, ia melihat seorang agen polisi dan itu membuatnya panik sehingga ia melarikan diri meski polisi tersebut sebenarnya tidak mencurigai apa-apa terhadapnya. ironisnya, ia tidak melarikan diri dari kejaran polisi atau siapa pun. ia melarikan diri dari anomali miliknya untuk menjemput kematian, di bawah jembatan.

sebelumnya, Jack mulai menemukan titik terang, yaitu rumah tujuan para korban kali terakhir mereka terlihat pergi. sang pemilik rumah tersebut juga telah berhasil diidentifikasi para polisi. saat pelaku nekrofilia keluar rumah dan berakhir bunuh diri, Jack dan koleganya leluasa mengunjungi rumah sang pelaku untuk menyelidik dan di sana mereka menemukan banyak barang bukti tanpa bertemu seorang penghuni sama sekali. hari itu juga polisi memberikan nama sang pelaku kepada pers sebagai jawaban dan sekaligus penawar kekhawatiran.

masalahnya, seorang mayat wanita ditemukan di hari berikutnya. mayat itu identik dengan korban sang pelaku seperti jahitan di payudara, pembedahan pada rongga dada, dan juga fakta-fakta lain setelah autopsi. salah satunya ialah adanya burung di dalam tubuh korban. di tempat lain, seorang lelaki menculik wanita dan menyanderanya. lelaki ini melakukan operasi pada payudara wanita itu dan merias wajahnya seperti korban-korban sebelumnya. lelaki itu menelantarkannya di bak sampah agar mati dengan kepala di bawah dan membungkusnya dengan plastik. mujurnya, wanita itu dapat segera ditolong dan ia pun berada di bawah lindungan polisi.

pada suatu rapat kecil, Jack mengungkapkan pikiran-pikiran perkiraannya berdasarkan keterangan dan fakta. ia menganggap bahwa pembunuhan serial itu dilakukan oleh dua orang, yaitu si pelaku sebagai sang pembunuh dan sang nekrofilia dan si Manusia Burung sebagai sang mutilator. si pelaku sudah mati dan kini giliran si Manusia Burung bergerak sebagai pelaku tunggal. di saat itu pula Jack mengungkapkan banyak prediksi logis untuk menyeragamkan pemikiran rekan-rekannya agar masuk dan sejalan dengan pemikirannya sendiri.

di lintasan tempat dan waktu lain, ada seorang lelaki berhasrat seksual tinggi. ia diterima di UMDS sebagai petugas keamanan. ia bertemu dengan sang nekrofilia dengan cara aneh di satu ruang bersama seorang mayat wanita. kecocokan mereka terus berlanjut meski sang lelaki sudah keluar dari UMDS karena tidak lulus tes untuk menjadi dokter dan sang nekrofilia juga keluar. lelaki itu sudah memerkosa beberapa wanita sebelum pembunuhan serial terjadi. ia bersekutu dengan sang nekrofilia untuk mengambil korban-korbannya di pub The Dog and Bell. sang nekrofilia menikmatinya terlebih dahulu, kemudian sang Manusia Burung tersebut mendapat giliran selanjutnya.

sang Manusia Burung sendiri sebenarnya sudah bertemu dengan Jack dalam suasana penyelidikan di rumah sakit St. Dunstan setelah korban pembunuhan serial terakhir diselamatkan, namun Jack belum mencurigainya sama sekali. sementara itu, satu demi satu teka-teki terjawab hingga kian membulatkan fakta milik Jack. dia dan beberapa rekannya pun menuju ke alamat sang Manusia Burung. di sana mereka menemukan bermacam-macam barang bukti bahwa Manusia Burung memang pelakunya. namun sayang, dia sudah pergi dengan membawa korban. Jack dan timnya pun memburunya. sebuah tim lain pun didatangkan dengan peralatan resmi untuk mengepung dan menangkap pelaku.

tidak disangka-sangka, si pelaku berhasil menyelinap keluar dan mampu melumpuhkan dua rekan Jack. Jack mengejarnya sendirian setelah tahu ia berlari. adegan pengejaran itu berlangsung cepat dan Jack dapat memenangkan perburuannya selama ini dengan baik dan dengan cara tidak terduga.




[1] Crime Investigation Division.
[2] Area Major Investigation Pool.

*